January 6, 2026
Pada bulan Januari tahun lalu, 2025, gue diajak temen gue mendaki gunung Ciremai, tektok. Pas gue tanya kapan, jawabannya Minggu depan, tentu saja gak langsung gue iyain, MINGGU DEPAN, dadakan bener anjir. Gue bilang sama temen gue “gue pikir-pikir dulu, ya”.
Untuk orang yang belum pernah sama sekali mendaki gunung, seminggu tuh dadakan. Gue belum punya jaket yang proper (gue gak mau mati kedinginan), sepatu yang proper (gue gak mau mendaki dengan kaki nyeker karena sepatu gue rusak), dan tas yang ideal (masa gue bawa tas yang biasa gue bawa buat kuliah. Ya walaupun bisa sebenernya, cuman kan kegedean kalo cuman tektok).
Setelah beberapa hari mikir, akhirnya gue memutuskan untuk ikut, dengan pertimbangan: pengin ngerasain mendaki gunung. “Gas gue ikut” kata gue ke temen gue.
Abis itu, gue mulai mempersiapkan semuanya, mulai dari beli jaket, sepatu, tas, sarung tangan, dan lain-lain yang gue rasa gue butuhin.
Udah beli semua barang yang gue butuhin, waktunya mendaki. Kami mendaki berlima, dan semuanya amatir, wkwkwk. 4 orang belum pernah mendaki gunung, termasuk gue, dan satu orang pernah mendaki gunung, tapi itupun gunung dengan ketinggian 2 ribuan kecil mdpl.
Kami mulai mendaki pada jam 2 pagi, dan harapan kami, kami bisa sampai puncak ketika matahari mulai terbit. Tapi harapan tak kunjung menjadi kenyataan, karena kenyataannya kami sampai puncak jam 10 pagi, wkwkwk.
Selama perjalanan, tidak ada kendala yang begitu besar, selain rasa pegal dan capek, eh, kayaknya itu salah dua kendala yang cukup besar, ya. Tapi ya namanya juga mendaki gunung, pasti pegal dan capek, apalagi kami pemula. Selama kita bisa mengontrol stamina dan menahan rasa pegal, hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai puncak.
Dari gelap sampai terang, kami masih berjalan menuju puncak. Kami berjalan banyak banget, tapi istirahatnya juga gak kalah banyak. “Santai yang penting sampai” itulah yang kami terapkan dalam pendakian ini.
Setelah kita melihat titik terang yaitu puncak, banyak orang yang jalan turun dari puncak dibandingkan naik. Beberapa kali kami bertemu orang yang jalan turun, kami bertanya “puncak berapa menit lagi a/kak/teh?” Jawabannya biasanya “5 menit lagi” atau “10 menit lagi”. Tapi setelah kami berjalan selama 5 atau 10 menit, tetep belum sampe puncak juga, anjirlah.
Sejak saat itu gue gak percaya lagi dengan kata-kata “puncak 5 menit lagi” dan yang semacamnya, itu cuman kata-kata penyenang sementara yang pada akhirnya akan membuat kita frustrasi, “ANJIR KOK GAK SAMPE-SAMPE PUNCAK SI!!!”.
Dengan rasa sedikit frustrasi, kami tetap teguh dan tekun, anjay, melanjutkan pendakian sampai puncak, ya walaupun sambil mulut komat-kamit ngedumel.
Sampailah kami ke puncak, wah gila, senangnya luar biasa. Akhirnya setelah mendaki berjam-jam sampe juga. Rasa capek, pegal, frustrasi, semua terasa hilang dan terbayarkan.
Akhirnya gue bisa melihat dunia dari atas, melihat orang-orang di bawah begitu kecil bahkan gak keliatan, tapi emang gak keliatan sama sekali si.
Selayaknya pendaki pada umumnya, kami juga mengabadikan momen bahagia ini dengan berfoto.
Tidak terlalu lama kami berada di puncak, karena sudah tercium bau belerang. Asap belerang kan berbahaya ya kalo dihirup dengan kuantitas yang banyak, kami gak mau pendakian ini malah jadi tragedi.
Jadi, kami segera turun, rasa capek dan pegal kami terasa kembali setelah melihat kenyataan bahwa kami harus kembali berjalan ke jalan yang sama seperti kami mendaki yang berjam-jam itu, bedanya kali ini kami harus jalan turun, anjirlah.
Pengin banget gue skip porses jalannya terus langsung sampe di basecamp. Tapi karena hidup bukan video di YouTube yang bisa diskip-skip semau kita, mau gak mau kami harus menjalani proses jalannya.
Kami mulai turun kurang lebih jam setengah sebelas, dan baru seperempat perjalanan, salah satu dari kami terjatuh sehingga sakit dibagian lututnya, jadi kami menurunkan tempo perjalanan, yang tadinya sangat pelan, jadi sangat² pelan, wkwkwk.
Di setengah perjalanan, salah satu dari kami (lagi) merasa sangat lemas dan tidak kuat untuk berjalan. Dengan begitu, kami istirahat cukup lama, dan berjalan sedikit demi sedikit dengan diselingi istirahat. Tapi melihat hari yang sudah mulai sore, kami sebisa mungkin sampai di basecamp sebelum hari sudah gelap, jadi salah satu dari kami menggendong teman kami yang tidak kuat berjalan.
Gak lama, hujan turun, wah chaos. Gue gak bawa jas ujan, tapi untungnya ada jas ujan bekas di sekitaran jalur, jadi gue pake aja. Ya sebenarnya itu buang sampah sembarangan ya, tapi ternyata ada manfaatnya buat orang lain (jangan salah paham).
Kami turun dengan jalur yang basah dan tentunya licin, badan juga sudah benar-benar letih. Di momen ini, mental gue bener-bener diuji, gue berdua sama temen gue yang lututnya sakit, jalan di posisi paling belakang.
Gue harus jalan dengan ngikutin tempo jalan temen gue, sangat pelan. Di sisi lain, gue pengin banget cepet-cepet sampe basecamp, karena takut hujan gede dan hari mulai gelap.
Tapi karena gue orangnya baik, anjay. Enggak, gue bukan orang baik, ingat itu! Gue nemenin temen gua yang jalannya sangat pelan, bukan karena gue baik, tapi karena gue gak pengin di pendakian pertama gue ini malah jadi tragedi.
Akhirnya setelah cukup lama kami menahan rasa sakit di kaki, pegal-pegal, capek fisik, capek mental, sampe juga di basecamp. Kami sampe pas magrib, jadi belum terlalu gelap banget. Alhamdu…lillah.
Usai sudah perjalanan pendakian kami di gunung Ciremai, sangat menyenangkan, walaupun sedikit chaos. Pengalaman yang luar biasa dalam hidup gue. Dan setiap kali gue melihat gunung Ciremai, gue bangga sama diri gue sendiri, bahwa gue pernah berada dipucuk gunungnya.
Gak pernah gue sangka-sangka gue bakal naik gunung. Pas gue SMP, gue gak mau banget naik gunung, walaupun pada saat itu banyak banget temen-temen gue yang naik gunung. Gue gak mau naik gunung karena terlalu banyak cerita-cerita aneh, kebanyakan si mistis.
Bukan karena gue takut hantu, tapi udah muak aja sama cerita-cerita aneh soal gunung, walaupun gue gak tau pada saat itu ceritanya bener atau enggak. Tapi seiring berjalannya waktu, gue yakin cerita-ceritanya boong, wkwkwk.
Dengan mendaki gunung Ciremai, gue jadi pengin naik gunung lagi, gairah gue untuk mendaki gunung cukup menggebu-gebu, jiwa agung (anak gunung) gue mulai tumbuh. Seiring berjalannya waktu, gairah ini semakin menjadi-jadi. Beruntungnya, ada yang ngajak gue mendaki lagi. MANTAP, INI DIA WAKTUNYA. Pendakian berikutnya adalah… GUNUNG SLAMET.
Sampai jumpa di cerita gunung Slamet.